Masukan semua bhn dlm baskom kecuali
mentega cair.....kocok dgn mixer kecepatan tinggi ,,,,hingga
mengembang,putih dan kental berjejak.
Masukkan mentega cair ,aduk balik dgn spatula karet hingga merata dan tercampur baik.
Tuang ke loyang ,,ratakan permukaan
,,,hentakan loyangnya ke lantai bbrp x ,,,,utk menghilangkan
gelembung.panggang dlm oven yang sdh dipanaskan sblmnya slama 15mnt dgn
suhu 200'c sampe matang dan permukaan berkulit kecoklatan.
Stlh matang. angkat dan dibalikan dikertas roti ,,,oleskan selai nenas/ sesuai selera.....gulung sambil dipadatkan.
Selasa, 21 Februari 2017
Soal Banjir, Kubu Ahok dan Kubu Anies Sama-sama Jayus
Warga menggunakan perahu untuk menuju rumahnya yang terendam banjir di
Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta, Senin (20/2).
Banjir yang terjadi di kawasan tersebut akibat luapan dari Kali Sunter.
ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/kye/17.
Saat banjir menimpa berbagai wilayah di Jakarta dan memakan korban, olok-olok antar-pendukung cagub tak juga surut.
tirto.id
-
Ruth DeWitt Bukater turun dari mobil, tangannya dituntun Caledon
Hockley, tunangan anaknya, Rose WeWitt Bukater. Ruth menengadah,
memandang takjub Titanic. "Jadi ini kapal yang orang bilang mustahil
tenggelam," katanya.
"Ia mustahil tenggelam. Tuhan sendiri bahkan tak bisa menenggelamkan kapal ini," kata Caledon, begitu yakin dan meyakinkan.
Tokoh
Caledon dan Ruth dan Rose dalam film garapan James Cameron (1997) tentu
saja fiktif, tapi keyakinan bahwa Titanic mustahil tenggelam itu
benar-benar ada karena sesumbar orang-orang Titanic sendiri dan
media-media cetak saat itu mengutip dan membesar-besarkannya. Mereka
bilang Titanic "praktis tak mungkin tenggelam" dan salah satu pegawainya
pada 31 Mai 1911 berkata, "Tidak juga Tuhan bisa menenggelamkan kapal
ini."
Yang kemudian terjadi, pada April 1912, Titanic tenggelam di Samudra Atlantik Utara setelah menabrak gunung es.
Bagi
para pemeluk agama yang teguh, peristiwa tenggelamnya kapal Titanic
adalah bukti kebesaran Tuhan. Tak peduli dari 2.224 penumpang yang
selamat hanya 710 atau sekitar 32 persen. Di internet, meski
peristiwanya terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu, bertebaran meme
tentang Tuhan yang tak menyukai orang-orang sombong.
Kepercayaan
berlebihan akan kemampuan manusia, yang dekat dengan keangkuhan, dari
masa ke masa memang merupakan bahan dasar yang empuk untuk olok-olok.
Seabad
lebih lima tahun setelah Titanic karam di lautan, 21 Februari 2017,
sebanyak 54 titik di Jakarta kena banjir dan ribuan rumah tenggelam.
Beberapa pekan sebelumnya, pendukung Ahok-Djarot, salah satu pasangan
calon dalam pilihan gubernur, menyebarkan meme secara sistematis dan
masif tentang keberhasilan Ahok-Djarot menanggulangi banjir.
Mereka
membusungkan dada, lebih-lebih sehari sebelum pencoblosan, pada 14
Februari, betapa hebatnya junjungan mereka menyetop banjir di ibu kota
Indonesia, betapa luar biasanya pekerjaan yang telah dilakukan
cagub-cawagub pilihan mereka: di tahun-tahun sebelumnya Jakarta sudah
digenangi banjir pada bulan Januari karena curah hujan yang tinggi, tapi
kali ini setelah didera deras hujan berhari-hari Jakarta masih kering
dan baik-baik saja. Bahkan ada yang sampai berani berkata disiram hujan
tujuh hari tujuh malam pun Jakarta tak akan banjir.
Sebagaimana
retorika politik yang terlalu sloganistik, dan keangkuhan yang melampaui
kadar yang bisa ditoleransi, meme-meme itu kini tak lebih dari omong
kosong dan jatuh menjadi lelucon tak lucu. Sudah begitu, mereka tambah
lagi dengan lelucon-lelucon baru yang tak kalah jayusnya.
share infografik
Teman Ahok, organisasi relawan pendukung Ahok yang pernah melakukan pekerjaan ambisius mengumpulkan sejuta KTP dukungan, di akun Twitter mereka menulis: "Kalau peduli banjir cuma sekadar bikin-bikin posko menyalurkan bantuan, itu cetek banget, Sob. Support mereka yang berjuang bikin banjir surut."
Di
hari yang penuh banjir ini, apa yang ada di kepala relawan Teman Ahok
hingga bisa menyepelekan atau merendahkan pekerjaan mereka yang segera
mengulurkan tangan kepada korban? Tentu saja agitasi politik dari kanan
dan kiri bikin gerah, dan ikhtiar untuk memoncerkan Ahok harus terus
mereka galakkan, tapi apakah itu harus sampai menihilkan simpati kepada
mereka yang menjadi korban?
Sebelumnya, pada 16 Februari, ketika
beberapa lokasi di Jakarta seperti Pejaten Timur dan Bukit Duri mulai
banjir, Anies-Sandi, pasangan calon yang menantang Ahok-Djarot di
putaran kedua pilgub nanti, melempar candaan yang lucu di mata pengikut
mereka.
"Kirain sudah bebas banjir," kata Anies kepada wartawan
di kantor DPP Gerindra. Pendukungnya menyambut perkataan Anies itu
dengan gelak tawa.
"Genangan." Sandi menimpali.
"Oh, genangan," kata Anies.
Demikianlah,
banjir Jakarta sejauh ini tak lebih dari ajang sesumbar, saling serang,
dan kompetisi menertawakan lawan. Sebagaimana omong besar awak Titanic
dan kelakar para pemeluk agama, semuanya sama sekali tak lucu di mata
para korban—apalagi jika sampai memakan korban jiwa.